Oke, saya baru saja mengalami pengalaman tidak meng-enak-an dengan teman saya. Singkat cerita, saya ada masalah dengan teman saya. Emosi saya menutupi akal sehat, membuat saya lupa tentang arti persahabatan yang sebenarnya, dan membuat saya tidak menghargai persahabatan kami. Saat itu, saya merasa paling benar, dan dia yang patut disalahkan. Saya tidak akan memulai untuk meminta maaf. Dia yang salah. Titik.
Sampai kemarin Jumat, saya melihat tayangan suatu acara di KompasTV - MataHati. Acara tersebut merupakan acara talkshow, dimana saat itu sang bintang tamu adalah Chokky Sitohang. Dalam acara tersebut, Chokky berbagi tentang pengalaman hidupnya, jatuh bangun dalam karirnya, dan yang paling menyentuh saya adalah bagaimana beliau memandang hidup ini. Salah satu statement-nya yang amat sangat manampar saya adalah ketika beliau membahas hal mengampuni. Beliau mengatakan bahwa ketika ada orang yang menyakiti kita, secepatnya kita harus mengampuni, dan ketika kita telah menyakiti orang lain, secepatnya kita harus meminta maaf, karena kita tidak tau berapa lama kita diberi waktu oleh Tuhan untuk bisa memperbaiki keadaan tersebut di dunia ini.
Tuhan telah mengingatkan saya melalui cara yang tidak kita duga. Saya merasa malu, merasa masih kekanak-kanakan. Seketika mata saya mulai basah. Teringat pada suatu ayat dalam Alkitab, bahwa ketika kita merasa disakiti, kita wajib mengampuni sampai 70 kali 7 kali (Matius 18 : 21-22). Bukan hanya sekedar 70 x 7, namun ayat ini mengajarkan kita untuk mengampuni sebanyak 70 pangkat 7. Hard thing to do ya? Jelas. Saya terus berdoa pada Tuhan, agar selalu diingatkan untuk bisa mengampuni, bisa meminta maaf, bisa berlaku sesuai kehendak-Nya.













